Emas yang baru diekstraksi dari tambang, sering disebut sebagai doré bullion, masih mengandung berbagai pengotor seperti perak, tembaga, atau logam dasar lainnya. Untuk mencapai tingkat kemurnian yang dibutuhkan untuk investasi, perhiasan, atau aplikasi teknologi tinggi, diperlukan teknologi pemurnian emas yang canggih. Proses pemurnian ini krusial karena menentukan kualitas dan nilai akhir dari logam mulia tersebut. Tanpa teknologi pemurnian yang efektif, emas tidak akan memenuhi standar pasar global. Sebuah laporan dari Asosiasi Pengolahan Mineral Indonesia pada Maret 2025 menunjukkan bahwa permintaan pasar akan emas dengan kemurnian 99,99% terus meningkat, mendorong inovasi dalam teknologi pemurnian.
Salah satu teknologi pemurnian emas yang paling umum dan banyak digunakan adalah proses Miller. Metode ini melibatkan peleburan emas doré dan kemudian melewatkan gas klorin melalui leburan tersebut. Klorin bereaksi dengan logam pengotor (seperti perak, tembaga, seng, dan besi) membentuk klorida yang mengapung di permukaan leburan sebagai slag atau menguap, sehingga dapat dipisahkan. Proses Miller relatif cepat dan ekonomis, mampu menghasilkan emas dengan kemurnian sekitar 99,5%. Namun, emas hasil proses ini masih memerlukan pemurnian lebih lanjut untuk mencapai kemurnian yang lebih tinggi.
Untuk mencapai kemurnian di atas 99,5%, seperti 99,99% (sering disebut four nines gold) atau bahkan 99,999% (five nines gold), digunakan teknologi pemurnian yang lebih canggih, yaitu proses Wohlwill atau elektrolisis. Dalam proses ini, emas doré yang telah diproses Miller digunakan sebagai anoda (kutub positif) dalam larutan elektrolit asam klorida emas. Emas murni akan terlarut dari anoda dan kemudian mengendap sebagai lapisan murni di katoda (kutub negatif). Metode elektrolisis ini sangat efektif dalam memisahkan emas dari pengotor yang tersisa, menghasilkan emas dengan tingkat kemurnian sangat tinggi. Kilang emas PT Antam Tbk, salah satu kilang emas bersertifikasi LBMA (London Bullion Market Association) di Indonesia, secara rutin menggunakan teknologi ini untuk memastikan produk emas batangan mereka memenuhi standar kemurnian global.
Selain kedua metode tersebut, ada juga metode aqua regia yang menggunakan campuran asam nitrat dan asam klorida untuk melarutkan emas, meskipun ini lebih sering digunakan untuk skala kecil atau laboratorium karena sifat korosif dan limbahnya yang kompleks. Dengan terus berinovasi dalam teknologi pemurnian, industri emas memastikan bahwa produk yang dihasilkan tidak hanya berkualitas tinggi tetapi juga memenuhi standar ketat pasar internasional dan kebutuhan aplikasi teknologi masa depan.
